12 CATATAN SEJARAH KEJADIAN ERUPSI KRAKATAU YANG MENIMBULKAN TSUNAMI DAHSYAT DARI MASA KEMASA

Selasa, 25 Desember 2018 | 8:03 pm | 18323 Views

 

Ilustrasi tsunami menyusul erupsi Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. (Foto: lukisan karya David Bergen – 1981)

 

internlampungnews.com – Bandarlampung, Tsunami di Perairan Selat Sunda yang menerjang sebagian kawasan pesisir Banten dan Lampung, akhir pekan lalu, menimbulkan korban jiwa, korban luka, dan kerusakan yang tidak sedikit. Bencana itu disebut-sebut sebagai dampak dari erupsi gunung api yang terdapat di perairan tersebut, yakni Gunung Anak Krakatau.

 

 

Tsunami yang terjadi di Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) lalu, bukan kali pertama terjadi. Dalam Jurnal Geologi Indonesia Volume III 4 Desember 2008 berjudul Tsunamigenik di Selat Sunda: Kajian Terhadap Katalog Tsunami Soloviev yang ditulis Yudhicara dan K Budiono disebutkan, wilayah perairan itu sudah cukup sering mengalami tsunami.

 

 

Sejak Tahun 416 hingga 1958, setidaknya telah terjadi 11 kali tsunami di Selat Sunda yang disebabkan berbagai faktor, baik pergeseran lempeng maupun aktivitas vulkanik gunung api atau yang menjadi cikal bakal Gunung Krakatau.

 

 

Dalam jurnal itu diungkapkan, tsunami yang terjadi akibat erupsi gunung api bawah laut Krakatau terjadi pada 416, 1883, dan 1928. Kemudian tsunami karena faktor gempa bumi terjadi 1722, 1852, dan 1958. Selanjutnya, tsunami yang timbul karena penyebab lainnya, seperti diduga akibat kegagalan lahan berupa longsoran—baik di kawasan pantai maupun di dasar laut—terjadi pada 1851, 1883, dan 1889.

 

 

Sementara, peristiwa terbaru pada Sabtu lalu, gelombang tinggi yang diklaim sebagai tsunami masih dicari penyebabnya. Dugaan awal, gelombang tinggi tersebut berasal dari longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau.

 

 

Sepanjang sejarah letusan, busur gunung api bawah laut Krakatau telah mengalami empat tahap pembangunan dan tiga tahap penghancuran. Kondisi geologi dasar laut Selat Sunda tergolong labil, disebabkan oleh perkembangan struktur geologi aktif yang membentuk terban. Terban ini berpotensi menimbulkan longsor akibat gempa bumi.

 

 

Jejak sejarah letusan hingga menyebabkan tsunami terjadi pada tahun 1883. Letusan Gunung Krakatau itu menarik perhatian dunia, karena material yang dikeluarkan menyebabkan tsunami di Sumatera baguan selatan dan Jawa Barat bagian barat. “Sedikitnya 36.000 jiwa meninggal dunia akibat letusan dan gelombang tsunami,” tulis jurnal tersebut.

 

 

Katalog tsunami yang ditulis oleh Soloviev dan Go (1974) merekam beberapa catatan kejadian tsunami di Selat Sunda. Berikut perinciannya:

 

Tahun 416

Dalam Kitab Raja Purwa edisi kedua (1885) yang ditulis Ronggowarsito (seorang pujangga Jawa dari Kesultanan Surakarta), terdapat catatan mengenai erupsi dahsyat Gunung Kapi (yang diyakini sebagai Krakatau sekarang). Peristiwa itu menyebabkan naiknya gelombang laut dan menggenangi daratan, serta memisahkan pulau Sumatera dan Jawa pada Tahun Saka 338 (416 Masehi).

 

 

Oktober 1722

Pada pukul 08.00 WIB di satu pagi dalam Oktober 1722, terjadi gempa bumi kuat di laut yang dirasakan di Batavia (Jakarta) dan menyebabkan air laut naik seperti air mendidih.

 

24 Agustus 1757

Pukul 02.00 WIB, gempa bumi yang kuat dirasakan di Batavia kurang lebih selama 5 menit. Pada 02.05 WIB, selama guncangan yang terkuat, angin dirasakan berasal dari timur laut. Air Sungai Ciliwung meluap naik hingga 0,5 meter dan membanjiri Batavia.

 

4 Mei 1851

Di Teluk Betung, di dalam Teluk Lampung di pantai selatan pulau Sumatera, teramati gelombang pasang naik 1,5 m di atas air pasang biasanya.

 

9 Januari 1852

Pukul 18.00 WIB, dirasakan gempa bumi yang menyebar dari bagian barat Jawa hingga bagian selatan Sumatera, dirasakan juga di Batavia, dan gempa-gempa susulannya dirasakan pula di Bogor dan Serang. Pada 20.00 WIB terjadi fluktuasi air laut yang tidak seperti biasanya.

 

27 Agustus 1883

Pukul 10.02 WIB, terjadi erupsi yang sangat dahsyat dari Gunung Krakatau yang diikuti oleh gelombang tsunami. Ketinggian tsunami maksimum teramati di Selat Sunda hingga 30 meter di atas permukaan laut, 4 meter di pantai selatan Sumatera, 2–2,5 m di pantai utara dan selatan Jawa, 1,5–1 m di Samudera Pasifik hingga ke Amerika Selatan. Di Indonesia sebanyak 36.000 orang meninggal dunia.

 

10 Oktober 1883

Di Cikawung, di Pantai Teluk Selamat Datang, teramati gelombang laut yang membanjiri pantai sejauh 75 m.

 

Februari 1884

Lima bulan setelah kejadian erupsi Gunung Krakatau, tsunami kecil teramati di sekitar Selat Sunda yang diakibatkan oleh suatu erupsi gunung api.

 

Agustus 1889

Terjadi kenaikan permukaan air laut yang tidak wajar di Anyer, Banten.

 

26 Maret 1928

Kejadian erupsi gunung api Krakatau diiringi oleh kenaikan gelombang laut yang teramati di beberapa tempat di sekitar wilayah gunung api.

 

22 April 1958

Pukul 05.40 WIB, dirasakan gempa bumi kuat di Bengkulu, Palembang, Teluk Banten, dan Banten yang diiringi dengan kenaikan permukaan air laut yang meningkat secara berangsur.

 

22 Desember 2018

Pesisir Selat Sunda terkena dampak gelombang besar, yakni di wilayah Banten dan Lampung. Belum diketahui penyebab gelombang tersebut. Namun dugaan awal, gelombang berasal dari longsoran tubuh anak Krakatau yang masuk ke kolom air laut. (intern)

Related Post

Leave a Reply

linked in share button