DI BALIK BUSUKNYA SAMPAH DAN MENYUSURI ALIRAN DANA RETREBUSI SAMPAH KOTA BANDARLAMPUNG

Senin, 7 Januari 2019 | 1:00 pm | 5877 Views

 

 

internlampungnews.com – Bandarlampung, Sampah yang kita hadapi sehari-hari. Yang sering kita anggap sesuatu yang tidak berguna lagi, sehingga setiap hari tumpukan sampah kian bertambah tumpukannya.

 

Untuk penanggulangannya maka banyak warga masyarakat menggunakan jasa pengangkut sampah untuk membawa sampah yang kita produksi setiap harinya dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah umum. Tentu dengan sebuah ketentuan dan komitmen setiap bulannya kita wajib membayar uang iuran atau retribusi uang sampah.

 

Namun yang menjadi pertanyaan, kepada siapa uang retribusi sampah itu diberikan..?

siapa pihak yang bertanggungjawab dalam mengutip dan mengelolah retribusi sampah tersebut..?

 

Mungkin sebuah kewajaran ketika muncul pertanyaan yang demikian sebab aliran dana retrebusi sampah di kota bandarlampung bukan hal yang di pandang sebelah mata jika merujuk pada perda Nomor 05/DPRD-BL 2011 serta Peraturan Walikota Bandarlampung Nomor 112 tahun 2011 sangat jelas tertulis tarif retrebusi pelayanan persampahan dan kebersihan kota bandarlampung.

 

Dimana sampah yang selama ini dianggap tak bermanfaat dan hanya dibuang begitu saja, di duga mampu membuat Kota bandar lampung merugi hingga miliaran rupiah Entah siapa lagi yang harus dipersalahkan dan bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

 

Sekilas mengingat ke belakang, bahwa sejak 1 Januari 2012, saat itu masih di bawah naungan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandarlampung akan melakukan penyesuaian nilai retrebusi pelayanan persampahan kebersihan.

 

Saat itu pengutipan retribusi sampah menjadi tanggung jawab Dinas Kebersihan Kota Bandarlampung yang dipercayakan kepada mandor yang ada disetiap lingkungan.

 

Kala itu sempat di kelola oleh beberapa Kelompok Swadaya masyarakat atau KSM anehnya Seiring waktu berjalan KSM Pun lenyap tanpa jejak sejak pengelolaan dan pengutipan Retrebusi sampah di kelola di bawah naungan KUPT kecamatan yang ada di kota bandarlampung. Yang tentunya berubahnya kepemimpinan, maka berubah jugalah kebijakan yang berlaku untuk pengutipan retribusi sampah di Kota Bandar lampung.

 

Awalnya muncul dugaan kemungkinan terjadi penyelewengan itu terjadi di tingkat camat dan lurah, karena camat dan lurahlah yang bertanggungjawab atas pengutipan retribusi langsung ke warga. Saat itu Tim berasumsi tidak mungkin lurah dan camat tidak tahu kemana aliran dana tersebut mengalir.

 

Karena dasarnya jelas dana retribusi itu sudah pasti bukan diambil tuyul. Karena mekanisme penyaluranya sudah tertata rapi dan terstruktur, setiap hari ada yang mengambil mengangkut sampah dan tentu setiap bulan ada yang menarik uang iuran retrebusi.

 

Tetapi ternyata dugaan kami salah sebab berdasarkan penyusuran dan investigasi Tim Internlampungnews.com ternyata pengakuan para lurah dan camat kota Bandarlampung sangat mengejutkan dan mencengangkan bagaimana tidak rata rata dari mereka tidak tahu menahu mengenai kemana aliran dana pengelolaan pengutipan retrebusi sampah tersebut.

 

Bak Paduan suara apa yang dikatakan para camat dan lurah dari mereka pernyataan serta mengatakan” Kami tahu soal pungutan retrebusi tetapi kami tidak tahu menahu Alirannya kemana sebab saat ini pengelolaannya ada di KUPT, tugas kami hanya memantau kebersihan saja” ungkap mereka.

 

Dilain pihak dari hasil pantauan internlampungnews.com di kalangan masyarakat ternyata kebanyakan mereka memiliki keluhan beragam mulai dari keterlambatan pengangkutan sampah, Perbedaan tarif retrebusi, penampungan akhir sampah hingga sulit membedakan mana petugas Legal dan ilegal.

 

Seperti yang di ungkapkan oleh salah satu Tuti warga tanjungkarang barat ini mengatakan bahwa” kami selaku pengguna jasa sering bingung adanya perbedaan tarif retrebusi, ada yang di kenak kan tarif dari 15 ribu hingga 45 ribu rupiah tetapi kami setelah membayar kami tidak di beri tanda bukti pembayaran retrebusi sampah seperti kupon ataupun kwitansi resmi yang legal” ujar ibu tiga anak ini.

 

Lain hal dengan tanggapan Sartika warga kemiling, ia menjelaskan bahwa sampah selalu jadi masalah di daerahnya sebab menurutnya pengelolaan sampah di daerahnya tidak di kelola dengan baik

 

Dengan bernada sedikit kesal ia menyebutkan bahwa” retrebusi di ambil tiap bulan sampah di ambil tidak tiap hari kadang 3 hari sekali kadang 2 hari sekali, tarifnya retebusi mulai dari 15 ribu hingga 35 ribu Tempat penampungannya sampahnya di ujung perumahan itu, sampah menumpuk di sana jadi kalau musim penghujan tiba dampaknya selain menimbulkan bau tidak sedap bagi pengguna jalan juga berdampak banjir di perumahan sebelah sana ” ungkap ibu rumah tangga ini. (intern1)

Related Post

Leave a Reply

linked in share button