“ Dul Kemit Meminta Dihukum Pancung “

Senin, 3 September 2018 | 8:50 am | 1659 Views

 

Cita-cita atau obsesi menghukum Dul Kemit sebenarnya masih bergolak di Hati Sang Baginda Raja, namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Dul Kemit.

Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agar Baginda memanggil seorang ilmuwan-ulama yang berilmu tinggi untuk menandingi Dul Kemit.

 

Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan Dul Kemit. Menjebak pencuri harus dengan pencuri dan ulama dengan ulama. Baginda menerima usul yang cemerlang itu dengan hati bulat. Setelah ulama yang berilmu tinggi berhasil ditemukan, Baginda Raja menanyakan cara terbaik menjerat Dul Kemit.

 

Ulama itu memberi tahu cara-cara yang paling jitu kepada Baginda Raja, sang  Baginda Raja manggut-manggut setuju wajah Baginda tidak lagi murung, Apalagi ulama itu menegaskan bahwa ramalan Dul Kemit  tentang takdir kematian Baginda Raja sama sekali tidak mempunyai dasar yang kuat.

 

Tiada seorang pun manusia yang tahu kapan dan di bumi mana ia akan mati apalagi tentang ajal orang lain. Ulama andalan Baginda Raja mulai mengadakan persiapan seperlunya untuk memberikan pukulan fatal bagi Dul Kemit.

 

Siasat pun dijalankan sesuai rencana Dul Kemit  terjerembab ke pangkuan siasat sang ulama  Abu Nawas melakukan kesalahan yang bisa menghantarnya ke tiang gantungan atau tempat pemancungan benarlah peribahasa yang berbunyi sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan terpeleset.

 

Kini, Dul Kemit  benar-benar mati kutu Sebentar lagi ia akan dihukum mati karena jebakan sang ilmuwan-ulama. Benarkah Dul Kemit  sudah keok..?

Kita lihat saja nanti.

Banyak orang yang merasa simpati atas nasib Dul Kemit, terutama orang-orang miskin dan tertindas yang pernah ditolongnya. Namun derai air mata para pecinta dan pengagum Dul Kemit  tak akan mampu menghentikan hukuman mati yang akan dijatuhkan Sang Baginda Raja  benar-benar menikmati kemenangannya. Belum pernah Baginda terlihat seriang sekarang.

 

Keyakinan orang banyak bertambah mantap Hanya satu orang yang tetap tidak yakin bahwa hidup Dul kemit akan berakhir setragis itu, yaitu istri Dul kemit.
Bukankah Alla Azza Wa Jalla lebih dekat daripada urat leher. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Gagah dan kematian adalah mutlak urusanNya.

 

Semakin dekat hukuman mati bagi Dul Kemit orang banyak semakin resah tetapi bagi Dul Kemit malah sebaliknya Semakin dekat hukuman bagi dirinya, semakin tenang hatinya.

Malah Dul Kemit  nampak setenang air danau di pagi hari, Baginda Raja tahu bahwa ketenangan yang ditampilkan Dul Kemit  hanyalah merupakan bagian dari tipu dayanya Tetapi Baginda Raja telah bersumpah pada diri sendiri bahwa beliau tidak akan terkecoh untuk kedua kalinya.

Sebaliknya Dul Kemit  juga yakin, selama nyawa masih melekat maka harapan akan terus menyertainya Tuhan tidak mungkin menciptakan alam semesta ini tanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan bahkan dalam keadaan yang bagaimanapun gentingnya.

 

Keyakinan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Baginda Raja dan ulama itu. Seketika suasana menjadi hening, sewaktu Baginda Raja memberi sambutan singkat tentang akan dilaksanakan hukuaman mati atas diri terpidana mati Dul Kemit.

 

Kemudian tanpa memperpanjang waktu lagi Baginda Raja menanyakan permintaan terakhir Dul Kemit.

Dan pertanyaan inilah yang paling dinanti-nantikan Dul Kemit “Adakah permintaan yang terakhir”

“Ada Paduka yang mulia.” jawab Dul Kemit singkat.
“Sebutkan.” kata Baginda.

“Sudilah kiranya hamba diperkenankan memilih hukuman mati yang hamba anggap cocok wahai Baginda yang mulia.” pinta Dul Kemit.

“Baiklah.” kata Baginda menyetujui permintaan Dul Kemit …”Paduka yang mulia, yang hamba pinta adalah bila pilihan hamba benar hamba bersedia dihukum pancung, tetapi jika pilihan hamba dianggap salah maka hamba dihukum gantung saja.” kata Dul Kemit  memohon.

“Engkau memang orang yang aneh. Dalam saat-saat yang amat genting pun engkau masih sempat bersenda gurau. Tetapi ketahuilah bagiku segala tipu muslihatmu hari ini tak akan bisa membawamu kemana-mana.” kata Baginda sambil tertawa. 

 

“Hamba tidak bersenda gurau Paduka yang mulia.” kata Dul Kemit bersungguh-sungguh Baginda makin terpingkal-pingkal belum selesai Baginda Raja tertawa-tawa, Dul Kemit berteriak dengan nyaring.

 

“Hamba minta dihukum pancung!”

 

Semua yang hadir kaget orang banyak belum mengerti mengapa Dul kemit  membuat keputusan begitu tetapi kecerdasan otak Baginda Raja menangkap sesuatu yang lain. Sehingga tawa Baginda yang semula berderai-derai mendadak terhenti.

Kening Baginda berkenyit mendengar ucapan Dul kemit  Baginda Raja tidak berani menarik kata-katanya karena disaksikan oleh ribuan rakyatnya. Beliau sudah terlanjur mengabulkan Dul kemit  menentukan hukuman mati yang paling cocok untuk dirinya.

 

Kini kesempatan Dul kemit  membela diri. “Baginda yang mulia, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung. Kalau pilihan hamba benar maka hamba dihukum gantung. Tetapi di manakah letak kesalahan pilihan hamba sehingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba telah memilih hukuman pancung..?” kata Dul kemit  memaksa Baginda Raja dan ulama itu tercengang. Benar-benar luar biasa otak Abu Nawas ini. Rasanya tidak ada lagi manusia pintar selain Abu Nawas di negeri Baghdad ini.

 

 

“Dul kemit  aku mengampunimu, tapi sekarang jawablah pertanyaanku ini. Berapa banyakkah bintang di langit?”

 

“Oh, gampang sekali Tuanku.”

“lya, tapi berapa, seratus juta, seratus milyar?” tanya Baginda.

“Bukan Tuanku, cuma sebanyak pasir di pantai.”Kau ini… bagaimana bisa orang menghitung pasir di pantai?”

 

“Bagaimana pula orang bisa menghitung bintang di langit?”

 

“Hahahahaha…!

Kau memang penggeli hati. Kau adalah pelipur laraku. Abu Nawas mulai sekarang jangan segan-segan, sering-seringlah datang ke istanaku.

Aku ingin selalu mendengar lelucon-leluconmu yang baru  !”

“Siap Baginda…!

” Lalu Baginda memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang kepada manusia terlucu di negerinya itu.

Related Post

Leave a Reply

linked in share button