class="post-template-default single single-post postid-3483 single-format-standard">

ELEMENT MASYARAKAT PERTANYAKAN “KELANJUTAN KASUS PELECEHAN SEKSUAL DI UNIVERSITAS ISLAM NEGRI RADEN INTAN LAMPUNG YANG DI DUGA HENDAK DI PETI ES KAN”

Minggu, 6 Januari 2019 | 8:56 pm | 1932 Views

 

 

internlampungnews.com – Bandarlampung, Terkait kasus dugaan Pelecehan Seksual yang dilakukan oknum dosen inisial SH terhadap mahasiswinya sendiri Di Universitas Islam Negri Raden intan Lampung (UIN RIL) Masih menjadi misteri.

 

Meskipun sudah sempat ramai menjadi perbincangan dan menjadi bahan Pemberitaan yang secara otomatis ramai menjadi trend topik tetapi kelanjutan perkaranya seolah adem ayem dan terkesan “Hendak di Peti Es kan”.

 

Asumsi itu sendiri wajar adanya sebab bukan tanpa alasan, meski Sudah lebih dari satu minggu pasca aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung sendiri tetapi terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen berinisial SH terhadap mahasiswa berinisial EP, sampai saat ini kasus ini seperti hilang ditelan bumi, tak lagi terdengar bagaimana kelanjutannya.

 

Menanggapi hal tersebut sempat mendapat tanggapan beragam dari pemerhati perlindungan dan kekerasan perempuan begitu juga pemerhati Hukum.

 

Termasuk dari internal UIN RIL sendiri seperti yang di katakan David Rifai sang mantan Wakil Presiden Mahasiswa periode 2016-2017 yang kini aktif di aebuah lembaga kemasyarakatan ini pun angkat bicara terkait persoalan tersebut.

 

David Rifai mengatakan pada internlampungnews.com bahwa dirinya sangat prihatin atas apa yang terjadi di kampus tempatnya pernah berproses itu.

 

Lebih gamblang david mengatakan ” tentu saya sangat prihatin Terlebih kejadian ini datangnya dari fakultas tempat saya berasal. Yang lebih mengherankan lagi ada kasus sedahsyat ini tapi kok adem ayem sudah seminggu lebih “katanya.

 

Lebih jauh David menambahkan bahkan mengutip hadits nabi, “Semestinya pimpinan, dalam hal ini adalah Rektor ambil bagian menyelesaikan kasus ini dengan objektif.  Apalagi Rektor kita kan ulama juga, pasti beliau paham hadits.

 

Jika merujuk dalam hadist yang berbunyi ” Lau anna fatimata binta muhammadin saraqot laqotho’tu yadahaa “Sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya” itu bisa dilihat di shahih Bukhari no. 6788 sama di kitab shahih Muslim no. 1688).

 

Jadi kudu tegas dong jangankan cuma sama bawahan, anak sekalipun kalau salah ya salah. Saya itu sedih korban nangis habis-habisan cerita dihadapan saya dan istri saya. Dan kalau mau di dudukan ya dudukan dua-duanya baik korban maupun pelaku.

 

Jangan korban saja yang di panggil. Saya hanya ingin kebenaran tetap disuarakan dan keadilan ditegakkan setegak-tegaknya”. Tutup David pada minggu (6/1/2019) kemarin. (intern1)

 

 

Related Post

Leave a Reply

linked in share button