(OPINI) Guru Ya Tetaplah Guru, Antara Tugas Dan Kesejahteraannya Apakah Sudah Seimbang

Minggu, 26 November 2017 | 2:21 pm | 375 Views

Guru,adalah orang yang harus bisa digugu dan ditiru. Maksudnya adalah orang yang patut didengarkan apa yang dikatakannya dan dicontoh apa yang dilakukannya. Didengarkan, beda dengan didengar. Didengar hanya akan masuk lewat telinga kanan keluar lewat telinga kiri, tapi tak ada realisasi apa yang telah didengarnya. Didengarkan maksudnya adalah melaksanakan apa yang telah guru katakan kepada kita. Di contoh kelakuan guru kita, tentunya yang baik-baik, karena pada dasarnya bukanlah merupakan karakter guru sejati untuk kita jika kelakuannya tidak patut untuk dicontoh.

Guru, adalah orang yang memberikan kepada kita ilmu pengetahuan agar kita bisa menjadi manusia yang berguna di dunia ini. Bayangkan jika kita terkungkung dalam kebodohan, kita pasti akan menjadi sampah di dunia ini. hari ini aku Teringat akan lagu yang berjudul Hymne Guru, yang dalam bait Syairnya menggambarkan bahwa guru adalah seorang pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu.
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan.
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Guru, sang patriot pahlawan tanpa tanda jasa.

Karena jasa guru tak ternilai harganya dan tak bisa digantikan walaupun dengan emas sebesar gunung. Seorang guru akan memberikan ilmu yang ia punya kepada orang-orang dengan tulus ikhlas dan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya.

Penghasilan guru di kota-kota besar mungkin sudah lebih dari cukup dengan segala fasilitas yang ada di kota. Tetapi bagaimana dengan guru yang mengabdi di daerah terpencil..?

Entahlah, mungkin bukan hanya saya tapi banyyak di luar sana yang sudah kehabisan kata-kata untuk mengekspresikannya.

Dengan memperhatikan realita yang ada, itu sudah membuatku semakin terkagum-kagum terhadap pengabdian seorang guru. Ada sebuah lagu sindiran, yang menyindir pemerintah, karena pemerintah kurang menghargai jasa guru. Yah walaupun ada murid yang kurang menghargai jasa guru, namun guru tetaplah guru, yang selalu tulus ikhlas dalam mengabdi demi mencerdaskan anak bangsa.

Bahkan ada Seorang Seniman yang menggambarkan bagaimana kehidupan seorang guru

Oemar Bakri… Oemar Bakri pegawai negeri,, Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati,, Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri… Profesor dokter insinyur pun jadi,, Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Guru,adalah sebuah profesi yang penuh kemuliaan,  Profesi yang penuh dengan kehormatan,  Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban buat kita untuk menghormati dan menghargai guru-guru kita. Baik itu di sekolah, kampus, atau di manapun. Walaupun terkadang kita kurang sependapat dengannya, yakinlah bahwa beliau menginginkan yang terbaik untuk kita. Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membalas jasa-jasa guru.

 

Guru Bisa Salah

Di saat seseorang guru mengeluhkan atau mempertanyakan tentang fasilitas minim yang dimiliki sekolah dan beberapa persoalan lainnya. Saat yang sama, guru dituntut memberikan pembelajaran yang berkualitas. Guru masa depan merupakan guru yang tidak mudah terjebak untuk sering menyalahkan orang atau pihak lain sebagai penyebab kegagalan dalam kesuksesan kegiatan belajar-mengajar.

Pernyataan ini menyadarkan saya atau bahkan mungkin Anda, karena termasuk orang yang pernah menyalahkan keadaan yang bisa dikategorikan menyalahkan. Sebagai pendidik baru mungkin masih idealis dengan visi pendidikan yang dipahami dengan menggunakan varian pendidikan yang inovatif dan kreatif, akan tetapi bagaimana dengan teman-teman Guru yang sudah mengabdi hampir 20 tahun menjadi guru swasta yang secara finansial gajinya tidak lebih besar daripada upah buruh pabrik, misalnya.

Sebaliknya pemerintah hampir setiap tahun menaikkan gaji guru-guru PNS. Padahal dalam setiap kesempatan para pejabat pendidikan selalu menyuarakan upaya penyetaraan guru negeri dan swasta secara finansial. Manis yang engkau ucapkan, pahit yang aku rasakan, sepenggal syair lagu yang diciptakan Rhoma Irama, sering mendengung memekakkan telinga.

Persoalan yang satu belum selesai, kini tantangan baru di depan mata yaitu peralihan kurikulum lama (KTSP) menjadi kurikulum 2013. Semua sepakat, yang menjadi masalah bukanlah perubahan kurikulum karena itu bagian dari tuntutan zaman memang menghendaki demikian. Yang menjadi soal adalah selalu dalam perubahan kurikulum itu disertai beban administrasi yang terkadang membingungkan.

Pada akhirnya sang guru hanya disibukkan oleh urusan administrasi yang melelahkan, sedangkan upaya peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran sering terabaikan. Untuk menyiasatinya timbullah budaya baru yang disebut copy-paste karena terbentur waktu yang tidak cukup untuk peningkatan diri.

Selanjutnya yang menjadi bahan penimpaan kesalahan adalah dalam guru itu sendiri. Banyaknya organisasi profesi guru yang mengakibatkan tidak berjalannya visi-visi guru sebenarnya. Akibatnya adalah timbullah kelompok-kelompok dalam komunitas guru, ada (PGRI, FGII, IGI, FSGI atau PERGUNTARA).

Ada kelompok pembangkang, pembebek, dan apatis. Padahal seharusnya organisasi profesi guru idealnya sebagai representatif dari semua kepentingan dan kebutuhan guru untuk menyukseskan pendidikan dan pembelajaran yang bermutu. Penimpaan kesalahan terhadap sesama guru bisa jadi karena berbeda ormas, misalnya, atau dianggap sebagai penghambat karirnya. Kesenjangan sosial pun dapat juga menjadi penyebab retaknya hubungan dewan guru.

Berikutnya, yang menjadi tudingan pembuat kesalahan adalah orang tua dan siswa itu sendiri. Orang tua dianggap sebagai penghambat kemajuan karena sebagian besar tidak mau memperhatikan perkembangan putra/putrinya. Sering terjadi orang tua hanya pasrah bongkokan kepada para guru tanpa diimbangi dengan perhatian yang penuh.

Malah yang lebih menyakitkan, bila siswa memiliki prestasi orang tua menganggap itu bukan keberhasilan para guru. Sebaliknya bila siswa melakukan pelanggaran dan non-prestasi orang tua menganggap para guru tidak sanggup memberikan pendidikan dan pembelajaran yang baik. Kita sadar bahwa guru juga manusia, bisa salah dan alpa. Dalam bagian berikut saya perlu melakukan pembacaan kembali bagaimana seharusnya menjadi guru ideal.

 

Guru Ideal

Menjadi guru ideal bukanlah hal mudah karena dalam jiwa dan raganya melekat sifat-sifat insan kamil (manusia sempurna) sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Dalam konsep menjadi guru ideal yang saya ambil adalah dari ajaran agama Islam. Ada beberapa sifat yang seharusnya melekat dalam pribadi guru ideal sebagaimana diuraikan oleh Ir. H. Soehadi Djami’in dalam bukunya Perjuangan Membangun Citra Sekolah Islam.

Pertama, sebagai sosok yang menjadi contoh bagi para siswa seorang guru harus bertaqwa kepada Allah. Dari segi akhlaq dia harus memiliki tingkah laku yang baik. Integritas tinggi kepada profesi dan pendidikan menjadi pegangan keseharian. Amal ibadahnya dilakukan secara istiqamah disertai wawasan Islam yang baik dan luas. Pada dirinya juga tertanam kuat niat sebagai da’i (pendakwah) sehingga kemampuan baca-tulis Al-Qur’an pun dimilikinya.

Kedua, seorang guru ideal mempunyai kelayakan akademis (kredibilitas) yang terdiri atas:

menguasai materi, terampil membuat rencana pembelajaran, terampil menggunakan multimedia dan metode, terampil mengelola kelas, memiliki improvisasi dan pengembangan materi, terampil mengevaluasi, mampu menyampaikan materi, tampil percaya diri, kreatif, dan  terampil membuat laporan.

Ketiga, mengutip pendapat Al-Mawardi, seorang ulama Islam, seorang guru ideal harus memiliki sikap tawadhu’ (rendah hati) dan menjauhi sikap ujub (besar kepala, sombong). Guru yang rendah hati akan mendapat simpati sedangkan guru yang besar kepala akan menjadi kurang disenangi bahkan mungkin dibenci.

Keempat, seorang guru ideal adalah guru yang memiliki sikap ikhlas, artinya membersihkan hati dari segala dorongan yang dapat mengotori niat mulianya. Keikhlasan berkait erat dengan motivasi. Guru ideal yang ikhlas sudah pasti motivasinya karena Allah semata, bukan karena dorongan nafsu semata atau mengharap status dan penghormatan.

Kelima, seorang guru ideal yakni guru yang mencintai tugasnya. Panggilan jiwanya mengarahkan diri dan jiwanya selalu berbakti kepada Allah SWT. Di atas berbagai hal tersebut, pada akhirnya seorang guru ideal hanya mencari ridha Allah bukan sekadar mengharapkan balasan berupa materi atau kehormatan semu.

Demikianlah tipikal seorang guru ideal. Guru yang sibuk mengurus dirinya sendiri agar menjadi pribadi yang semakin baik dan berkualitas. Karena kesibukannya itulah dia tidak direpotkan untuk mencari kambing hitam yang dianggap sebagai biang keladi kesalahan. Introspeksi diri setiap saat menjadikan guru semakin diperhitungkan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Sehingga ‘kodok pun ikut bernyanyi’ karena gembira menyaksikan dunia pendidikan Indonesia dapat dibanggakan. (*)

 

Related Post

Leave a Reply

linked in share button