(OPINI) Tahun Politik 2018 “ Damai Dalam Gersang “

Selasa, 21 November 2017 | 1:22 pm | 1432 Views

 

Bangsa Indonesia sudah memiliki pengalaman peradaban selama berpuluh-puluh abad untuk memilih pemimpinnya. Pada Pemilihan Kepala Daerah di abad 21 ini jauh lebih sederhana karena sekadar melibatkan penduduk atau warga Negara , pada 27 juni Pemilukada 27  kembali di gelar secara serentak di seluruh “ Negri Surga “ yang konon tongkat Kayu dan  batu Jadi tanaman “

Begitu Juga Dengan Negri “ Tanah Lada “ secara merata para Tokoh, mengambil peranan dan posisi mereka berlomba mengambil posisi untuk sebuah pesta Rakyat ini. berbagai  upaya pun di kerjakan mulai dari melakukan manuver politik, perang pencitraan,dan lain sebagainya, Tidak ada satu peristiwa yang terlewatkan dalam kehidupan yang dihuni oleh mahluk yang bergelar “Manusia Politik”  yang ingin Menjadi orang penting.

lain hal dengan “ Si Mahluk Apatis “ mereka ibarat benda yang beku, diam dan seolah sunyi abadi  meski pun yang pada akhirnya ia harus kalah dengan keadaan dan kenyataaan kemudian berhijrah dari jengkal waktu ke jengkal waktu  seiring pengaruh sosialnya di antara para “ Mahluk Politik” yang mampu melihat peluang menggunakan “kekuatannya “.

Pedagang  bakso menghijrahkan baksonya ke pembeli, dan si pembeli menghijrahkan uang ke penjual bakso. Orang buang ingus yang menghijrahkan si Virus Ke orang lain yang pada akhirnya orang yang sehat terkena flu juga, buang air besar di Wc umum setelah dia membuang hajatnya pasti membayar atas perbuatannya meski pun dalihnya adalah   melakukan transaksi, banking, ekspor impor, suksesi politik, revolusi, apa pun itu, tetap saja namanya hijrah ,,hijrah.,, hijrah dan hijrah…

Hijrah adalah pusat jaringan nilai ilmu, mulai dari gerak dalam fisika dan kosmologi hingga perubahan serta transformasi dalam kehidupan sosial manusia. Manusia Hanya tinggal bersyukur bahwa wacana dasar hijrah sedemikian bersahaja, bisa langsung dipakai untuk mempermatang atau di di gunakan untuk cara memasak makanan, cara menangani pendidikan anak-anak, cara mengurus organisasi dan bahkan Negara sekalipun.

Kemudian muncul sebuah istilah Politik Konsumerisme  ditengah kalangan masyarakat yang sudah bisa dipastikan semua itu karna ulah si “ Mahluk Politik”  istilah yang kemunculanya dari mana .???. Tapi Secara serentak tanpa komando menjadi popular

sementara Konsumerisme ialah keadaan dimana mekanisme konsumsi sudah menjadi bagian yang substansial dari kehidupan manusia. ‘Bagian substansial’ maksudnya bagian kehidupan yang seolah-olah dianggap ‘wajib’ atau tidak lagi ditinggalkan. Keberlangsungan konsumerisme ditentukan ketika nilai dan potensi kreativitas manusia atau masyarakat dikapitalisir, dijadikan alat pemenuhan kebutuhan yang di jual belikan.

Konsumerisme Sebenarnya merupakan kasus ekonomi, kasus budaya, bahkan bisa dilatari atau ditujukan untuk proses-proses politik Kekuasaan. Oleh karena itu konsumerisme sebenamya bisa memiliki sisi yang bermacam-macam.

Misalnya, dalam konflik terbuka antara Musa melawan Fir’aun yang didampingi oleh para sihir bayarannya, diakhiri dengan “duel kekuatan” antara mereka. Lihatlah Surah Thaahaa ayat 65 hingga 69 saja. Para penyihir sewaan Fir’aun berkata, “Wahai Musa..! engkaulah yang terlebih dahulu melemparkan, ataukah kami?”

Musa menjawab, “Silahkan kamu sekalian melemparkan!” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat para penyihir itu – terbayang pada mata Musa menjadi ular-ular kecil yang amat banyak, merayap-rayap ke segala penjuru.

Al-Qiyadah kalah seram dibanding Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar Versus  Ahmad Mushaddeq, pemimpin aliran itu, menyatakan bahwa dirinya adalah rasul. Sedangkan Al-Hallaj menemukan “Akulah Kebenaran”, dengan idiomatik bahwa Kebenaran, al-Haq, adalah Allah itu sendiri. Perutusan para Wali menemui Siti Jenar untuk memanggil beliau menghadap pengadilan para Wali. Jenar, kabarnya, menjawab: “Syekh Siti Jenar tak ada. Yang ada Allah.” Pulang balik, para utusan membawa “diplomasi” antara kedua belah pihak. Jawaban Jenar disampaikan dan utusan balik lagi kepada Jenar membawa kalimat: “Allah dipanggil menghadap para Wali.” Jenar menjawab: “Allah tidak ada, yang ada Syekh Siti Jenar.”

Sebetulnya yang saya Fahami wilayah ini memang rawan untuk di ceritakan , tapi tetap saja saya “nekat” menulis karna bingung mengalogikan menuangkan gambaran kenyataan hidup  kedalam sebuah tulisan , menjawab pertanyaan banyak orang dengan upaya agar berkurang kerawanannya. saya kemudian menggantikan itu  melalui karakterisasi Empat Khalifah :

Abu Bakar as-Shiddiq khalifah pertama itu manusia kultural  ia memandang sesuatu, mendekatinya, mengapresiasinya, belajar memahaminya, melakukan pendekatan kultural untuk mendekati kebenaran dan “Menemukan Sang Maha Pencipta “.

Umar bin Khattab manusia radikal  ia memerlukan semacam benturan untuk menemukan kebenaran dan menyadari kehadiran “ Sang Maha Penciptanya”

Utsman bin Affan manusia timbangan: tawazzun dengan rasio, kalkulasi, simulasi, untuk memperoleh resultan atau sintesis dititik tengah kebenaran “ Sang Maha Penciptanya”

Walau Pun Ali bin Abi Thalib adalah khalifah yang termuda tapi beliau tidak memerlukan ketiga metode itu kalau pandangan Ali hinggap pada daun, yang tampak olehnya adalah “ Campur tangan Penciptanya, kalau bunyi menyentuh gendang telinganya yang terdengar olehnya karna “ Campur Tangan Penciptanya”. Ali tidak bisa menemukan apa pun kecuali “ Atas Kuasa dan Campur Tangan Penciptanya”

 

Sementara Kalimat “ Sang Maha Pencipta “ bukan hal yang mudah untuk di artikan dari satu pandang, berdasarkan dua buah konsep yakni “ Hukum Dan Prinsip sehingga kalimat “Sang Maha Pencipta” banyak arti, yang maknanya tidak dapat di asumsikan menjadi satu arti. dalam sebuah konsep Spiritual Agama sudah menjadi keharusan Ketika mengartikan “ Sang Maha Pencipta “ Adalah Tuhannya, Allah, Khalik, dan dewa Berbeda ketika Seorang Pengusaha Mengartikan “ Sang Maha Pencipta” mungkin Sah sah saja ketika Sang pengusaha mengartikan  Sang Maha Pencipta adalah “ Pemegang saham,Kepala Negara,Kepala Daerah dan Lain Sebagainya.

Sedangkan makhluk-makhluk lain yang bukan manusia, dari Malaikat sampai hewan, tidak memiliki hak gugat terhadap keputusan demokrasi modern ummat manusia, karena “ Sang Maha Pencipta” sudah memberi mandat penuh ibarat Duta Besar Berkuasa Penuh untuk menjadi khalifatullah fil-ardl, mandataris utusan Negrinya.

Matangnya kebudayaan bangsa Indonesia, sebagai individu manusia maupun sebagai kumpulan komunitas, menjadikan pelaksanaan demokrasi sedemikian gagahnya, penuh kemerdekaan dan kreativitas, penuh kelincahan dan keterampilan, namun tetap berada dalam kontrol bersama yang komprehensif di antara semua kelompok, segmen, strata dan kantung-kantung lain bangsa Indonesia.

Demokrasi di tangan bangsa Indonesia bagaikan bola di kaki Maradona, tongkat ganda di tangan Bruce Lee, bola basket di tangan Kareem Abdul Jabbar atau Michael Jordan, mobil Formula-1 di kendali Schumacher, Ayrton Senna atau Fernando Alonso. jika di sebut dengan kalimat  agak puitis, demokrasi bagi bangsa Indonesia itu bak gelombang di pangkuan samudera, bak panas di ujung lidah api, bak kokok di tenggorokan ayam, atau auman di mulut harimau.

Di dalam setiap keluarga selalu terdapat pembelajaran dialog-dialog alamiah tentang kepemimpinan dan siapa pemimpin. Aspirasi dari keluarga-keluarga kemudian dengan sendirinya menjadi muatan interaksi masyarakat se Rukun Tetangga. Kemudian fondasi aspirasi itu meningkat dan meluas hingga ke skala desa atau kelurahan. Demikian seterusnya sampai ke babak ‘semifinal’ dan ‘final’ di panggung puncak kepemimpinan Nasional.

Jadi kalau ada seseorang akhirnya terpilih menjadi Seorang pemimpin, sesungguhnya itu hanya ujung dari suatu proses yang sangat panjang. sebab Bangsa Indonesia sudah ‘memiliki’ Seorang Pemimpin sejak di rumahnya masing-masing. (*)

Related Post

Leave a Reply

linked in share button