class="post-template-default single single-post postid-3553 single-format-standard">

PC PMII LAMPURA MEMINTA PERTANGGUNG JAWAB RUMAH SAKIT UMUM RYA CUDU TERKAIT KEJADIAN KESALAHAN OPERASI PASIEN

Rabu, 9 Januari 2019 | 1:16 am | 1664 Views

internlampungnews.com- Lampung Utara, Nampakya Masalah datang bertubi tubi di Rumah Sakit Umum Rya Cudu kotabumi tak kunjung reda telah Diketahui bersama belum selesai persoalan adanya Aksi pegawai Rumah sakit berplat merah yang penyebabnya adalah adanya Roling kepala Ruangan yang sempat menarik perhatian warga Lampung Utara.

 

Kini kembali Rumah sakit Rya Cudu menjadi pusat perhatian setelah viralnya di pemberitaan dan di media sosial terkait adanya kejadian salah operasi yang menimpa salah satu pasien Rumah sakit umum Rya cudu yang di duga malparaktik sehingga mendapat reaksi beragam.

 

Salah satu komentar yang datangnya dari Afat Satria yang saat ini menjabat sebagai Sekertaris Umum PC PMII kabupaten Lampung Utara, saat di hubungi Via telepone ia menguraikan bahwa pihaknya telah menyoroti runutan kejadian demi kejadian yang telah terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Rya Cudu yang di nilai tidak seharusnya kejadian tersebut tidak terjadi PC PMII Lampung Utara tentu sangat menyayangkan persoalan yang telah terjadi tersebut.

 

Secara detail Afat Satria mengatakan ” Masih segar dalam ingatan kami semua warga kabupaten Lampung utara saat adanya aksi yang di sebabkan adanya roling jabatan Kepala ruangan, Hingga persoalan di Bawa ke DPRD lampung utara yang melahirkan adanya remunisasi dan kami mendukung hal ini.

 

Lalu tadi pagi terjadi lagi kejadian yang sangat memprihatinkan dengan adanya salah operasi yang menimpa salah satu pasien yang hendak operasi Hernia malah di operasi Ambeien.

 

Tentu kejadian ini yang bagi kami orang yang kurang memahami prosedural dunia medis jelas menjadi hal yang sangat rancu dan tidak rasional jika di kaji secara logika.

 

Bagaimana tidak rancu jika pasien datang kerumah sakit, untuk meminta pertolongan untuk di lakukan operasi Hernia tiba tiba malah operasi Abeien.

 

Lebih lanjut ia memaparkan bahwa sejauh ini dan sepengetahuannya jika ada pasien yang hendak melaksanakan operasi sudah barang tentu ada kesepakatan yang telah di buat oleh pihak dokter, pasien, keluarga pasien dan di ketahui oleh beberapa saksi sebelum pihak dokter melakukan operasi.

 

Selain itu pihak dokter jika melakukan kinerjanya di luar dari pada perjanjian tentu itu sudah melanggar aturan, meski pihak dokter melihat ada sebuah kejadian yang sifatnya urgent tetapi minimal pihak dokter memberitahukan terlebih dahulu kepada pihak keluarga pasien.

 

Sebab kita harus akui bahwa pekerjaan yang di jalani para dokter tidaklah mudah tetapi bukan berarti pihak dokter mengenyampingkan hak pasien, terlebih kegiatan operasi yang menimbulkan kerugian pasien, terlebih langkah yang di ambil tersebut tanpa sepengetahuan keluarga atau pasien.

 

Secara akal sehat sajalah kita ambil contoh jika kaki kanan yang mengalami sakit karna sesuatu lain hal sehingga harus mendapat tindakan di amputasi tetapi tiba tiba kaki kiri yang mengalami tindakan amputasi waduh kan ngeri” kata afat.

 

“Untuk kejadian ini nampaknya harus di selesaikan secara serius sebab jika tidak saya khawatir menimbulkan efek negatif dan menimbulkan hal hal yang tidak di inginkan sebab kita semua tahu kejadian ini sudah jelas menyalahi perjanjian prosedural, menurut saya kita fokus dulu ke penanganan si pasien.

 

Lagi pula si pasien telah mengalami operasi Ambeien, sehingga pasca operasi tentu pasien tersebut harus mendapatkan penanganan yang harus serius.

 

Selain hal tersebut dirinya meminta kepada pihak aparat terkait untuk dapat memyelesaikan persoalan tersebut terutama tanggung jawab dokter yang telah melakukan kesalahan operas tersebut begitu juga pihak Rumah sakit sebagai pihak yang menaungi si dokter ” tutup Afat (intern1)

Related Post

Leave a Reply

linked in share button